Tokobuku Faisal Mustaffa

By: tokobuku faisalmustaffa

[Recommend this Fotopage] | [Share this Fotopage]
View complete fotopage

Tuesday, 14-Jan-2014 05:37 Email | Share | Bookmark
“Ancaman Kolektivisme”

Ancaman Kolektivisme
Hanya sedikit buku yang memberi pengaruh kepada anggota keluarga liberal seperti buku “Ancaman Kolektivisme”. Buku ini ditulis pada tahun 1944 oleh penulis Austria yang diasingkan ke Inggris bernama Friedrich August Hayek. Saat ini terjemahan bahasa Indonesianya yang berjudul “Ancaman Kolektivisme” telah dipublikasikan di Jakarta olehFreedom Institute dan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit. Dan bisa didapatkan melalui kedua institusi tersebut.

Siapakah Friedrich Hayek dan apa yang membuat buku ini sangat penting?

Friedrich August Hayek lahir di Austria pada tahun 1899. Setelah belajar hukum, mengajar dan meneliti di Austria, pada tahun 1931 Hayek pindah ke Inggris untuk mengajar di sekolah London School of Economics yang terkenal, dan di sana dia tinggal hingga tahun 1950. Di London Hayek mempublikasikan tulisan-tulisannya, dan salah satunya adalah buku “Ancaman Kolektivisme” pada tahun 1944. Setelah itu Hayek mengajar di University of Chicago di Amerika dari tahun 1950 sampai 1962, kemudian ia juga mengajar di University of Freiburg di Jerman dari tahun 1962 sampai ia pensiun pada tahun 1968. Pada 1974 Hayek menerima penghargaan Nobel untuk bidang Ilmu Ekonomi. Hayek wafat di Freiburg pada tahun 1992.

”Ancaman Kolektivisme” menjadi sangat terkenal, atau bagi para kritikusnya dikatakan terkenal buruk karena kala itu ditulis menentang paham yang sedang populer. Buku Hayek ini secara politis mendeklarasikan perang intelektual dengan orang-orang yang mengikuti paham mayoritas, yaitu kaum kolektivisme.

Ingatkah bahwa pada tahun 1920an dan 1930an di abad yang lalu kita dapat menyaksikan bangkitnya ideologi kolektivisme ini? Yaitu komunisme dan fasisme, yang keduanya menolak individualisme karena bertentangan dengan paham perjuangan kelompok (komunis) atau nasionalisme dan bahkan rasialisme (fasisme) dan mencoba mengganti ekonomi pasar dengan sistem ekonomi yang diatur oleh negara dan perencanaan ekonomi terpusat.
Akan tetapi, bahkan di demokrasi barat seperti Amerika Serikat atau Inggris dahsyatnya krisis ekonomi pada tahun 1930an mendukung politisi seperti Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt dan akademisi seperti ekonom Inggris John Maynard Keynes yang mengadvokasi intervensi pemerintah secara besar-besaran terhadap keadaan ekonomi dengan tujuan untuk membenahi apa yang mereka lihat sebagai – meskipun istilahnya salah – kegagalan pasar.

Situasi yang tidak menguntungkan untuk para liberalis ini bahkan diperburuk dengan Perang Dunia II. Ketika pada tahun 1944 saat buku Hayek dipublikasikan, Hitler dengan NAZInya sudah akan mengalahkan Uni Soviet sebagai salah satu pemenang perang besar. Uni Soviet telah berhasil bertahan dari mesin-mesin perang Jerman yang besar dan sudah di ambang untuk menetapkan komunisme di sebagian besar wilayah Eropa Tengah dan Eropa Timur. Banyak kaum intelektual, bahkan di negara-negara demokratis, berkontribusi terhadap kemenangan paham kolektivisme Uni Soviet ini. Komunisme, ”diktator kaum proletar” (yang pada kenyataannya adalah kediktatoran pribadi dan brutal oleh Josef Stalin) dipandang oleh banyak orang sebagai kisah yang sukses.

Di saat yang bersamaan PD II telah membuat bertambahnya perencanaan ekonomi terpusat di negara-negara demokratis seperti Amerika dan Inggris. Inisiatif swasta dan persyaratan pasar bebas dikesampingkan dengan tujuan memaksimalkan persaingan produksi yang diatur dan dibayar oleh pihak pemerintah yang berkuasa. Mengapa model semacam ini yang sangat berhasil selama masa perang melawan fasisme tidak terus dilakukan dalam masa damai (tidak perang)? Apakah perang tidak menunjukkan bahwa perencanaan ekonomi terpusat kaum kolektivisme superior terhadap instruksi spontan yang diadvokasi oleh para liberalis yang mengijinkan jutaan konsumen dan produsen untuk menjual dan membeli di pasar manapun yang mereka suka? Banyak kaum intelektual berpikir seperti itu. Di sisi lain, sosialisme, yang kurang lebih juga demokratis, tampaknya tidak terhindarkan saat tahap akhir PD II.

Dalam situasi yang sulit seperti yang dijelaskan di atas tadi seorang liberalis, Friedrich August Hayek mempublikasikan bukunya. Pesan inti buku ini dari dulu hingga sekarang adalah bahwa segala bentuk kolektivisme dan perencanaan ekonomi terpusat dalam bentuk samaran apapun dapat terlihat seperti tidak superior terhadap pasar tetapi inferior. Mereka tidak mengarah ke kebebasan dan rasa hormat terhadap kemanusiaan melainkan ke penindasan dan ”perbudakan” umat manusia. Bagi Hayek adalah gagasan yang tidak nyata ketika negara (dan ini selalu berarti kelompok-kelompok dan segelintir kecil individu yang mempunyai posisi tinggi di struktural negara) lebih bijaksana daripada pasar dimana jutaan orang berinteraksi bebas dan sukarela setiap hari. Sangatlah arogan untuk percaya bahwa sekelompok besar politisi dan birokrat dapat mengetahui kebutuhan dan apa yang diinginkan orang banyak, kapan, di mana, dalam bentuk apa dan berapa besar. Perencanaan ekonomi terpusat dan kolektivisme tidak menghasilkan partispasi dan kebulatan tekad melainkan totaliterisme, kebutuhan dan keinginan segelintir orang untuk mengatur orang banyak dan segala hal dan mengambil keputusan atas nama semua orang.

Kepercayaan yang fatal bahwa kolektivisme dalam bentuk komunisme atau sosialisme dan perencanaan ekonomi terpusat tidak dapat dihindari membuat liberal merespon. Hayek dalam buku ”Ancaman Kolektivisme” menyediakan respon ini. Ironisnya, Hayek menujukan bukunya ”untuk kaum sosialis dari semua partai” yang adalah orang-orang yang ingin ia ajak untuk berbagi ide yang sama dengan dia. Akan tetapi, seperti yang sering terjadi pembaca utamanya bukanlah lawan politik Hayek yang lebih memilih untuk marah karena kesalahan politis Hayek. Malahan, buku ini mendapat tanggapan balik dari teman sesama liberal Hayek yang selama perang dan tahun-tahun sebelum perang yang sulit telah mencoba namun sia-sia untuk membela kebebasan dan ekonomi pasar. Hayek memberikan mereka argumen yang segar dan meyakinkan. Ia memberikan contoh semangat dengan mengemukakan gagasan-gagasan pertempuran melawan kolektivisme dalam bentuk yang berbeda-beda.

Buku ini awalnya hanya dicetak sebanyak 2,000 eksemplar, tapi dengan cepat mendapat permintaan yang besar. Cukuplah untuk disebutkan di sini bahwa pada April 1945 buku ini dipublikasikan dalam versi ringkas di Reader’s Digest yang terkenal. Segera setelah itu lebih dari 600,000 eksemplar dari versi ringkas buku ini didistribusikan oleh American Book of the Month Club.

Saat ini jumlah edisi dan terjemahan yang ada sudah tidak terhitung lagi. Buku “Ancaman Kolektivisme” Hayek telah menjadi sesuatu yang klasik tapi tetap menstimulasi perdebatan dan memotivasi kaum liberal di seluruh dunia. Efek yang berjalan ini dengan jelas dapat dilihat di Negara-negara Eropa Timur dan Eropa Tengah dahulu setelah runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989 ketika beberapa politisi terkemuka yang terpilih secara demokratis mengutip Hayek di depan publik sebagai sumber inspirasi mereka.

Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit di Indonesia sangat bangga karena bersama-sama dengan mitra dari Indonesia, yaitu Freedom Institute, saat ini telah menerbitkan terjemahan baru buku „Ancaman Kolektivisme“ dalam bahasa Indonesa. Versi terbaru ini diluncurkan dalam sebuah acara pada tanggal 28 Oktober 2011 di Freedom Institute.

Sementara beberapa analisa brilian Hayek akan kesalahan dan eror dari kolektivisme, komunisme dan sosialisme dan segala bentuk perencanaan ekonomi terpusat diragukan bila dianggap sebagai refleksi dari masanya, semangat dari buku ini dan argumen-argumen bagus yang digunakan masih berlaku hingga hari ini. Setiap saat dan dimana pun ada yang jatuh dalam godaan kolektivisme dan ada yang menentangnya. Pada dasarnya, dari waktu ke waktu argumen mereka tetap sama.

Bagi siapa yang menginginkan kebebasan, bukan perbudakan, Hayek menyediakan alasan-alasan yang sangat baik.

Mudah-mudahan edisi terbaru dapat meraih para pembaca Indonesia sebanyak mungkin!
NB: Soft Copy bukunya dapat didownload di http://www.scribd.com/doc/75078569/F-A-Hayek-Road-to-Serfdom


Rainer Erkens
Resident Representative
Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit
Jakarta, Indonesia
November 2011

MAKLUMAT BUKU
Judul: “Ancaman Kolektivisme” Buku Klasik Hayek yang Menentang Sosialisme
Penulis: Friedrich A. Hayek
New Pb 301 pp.
Subjects: pilihan raya
ISBN: 9786029957105
Publisher: Fredrich Naumann Stiftung
Published: 2011
Harga : RM20.00*
*tidak termasuk kos penghantaran

Cara membeli;

1. Pls SMS 0122290944 (Type <Ancaman Kolektivisme>)
2. Selepas mendapat pengesahan daripada sms anda, bayaran dilakukan melalui maybank2u.com atau Maybank Kawanku ke akaun Faisal bin Mustaffa (MBB 114179439605)


View complete fotopage


© Pidgin Technologies Ltd. 2016

ns4008464.ip-198-27-69.net